"Permainan gasing bukan hal yang asing bagi orang Indonesia. Permainan tradisional ini cukup populer di kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Di Kota Batam, gasing juga dikenal sedemikian rupa. Bahkan, Pemerintah Kota (Pemko) Batam rutin menggelar permainan gasing tradisional Melayu saat hajatan Kenduri Seni Melayu (KSM) di penghujung tahun"
Secara khusus, budaya Melayu juga mengenal permainan gasing sebagai salah satu permainan tradisional. Gasing di sini terbuat dari bahan kayu dan dikendalikan dengan seutas tali yang disimpul.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Muhammad Zen, mengatakan, gasing telah dikenal di kancah nasional dan internasional. Untuk Provinsi Kepri, hampir seluruh kota dan kabupaten memainkan gasing.
Di antaranya Batam, Natuna, Karimun dan Tanjungpinang. Setiap daerah memiliki cara berbeda dalam memainkan gasing ini.
“Di Natuna, permainan gasing dilakukan dengan cara diputar kemudian diletakkan di atas kaca berukuran 40x40 centimenter dan bertandingnya (gasing) siapa yang paling lama bertahan,” katanya, di Kantor Disbudpar Kota Batam, Batam Centre, Rabu (16/11/2021).
Zen menjelaskan, untuk Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Karimun, cara memainkannya, yakni uri atau memutar gasing dengan tidak menggunakan alas, dan langsung di tanah. Kemudian, setelah uri gasing yang berhenti duluan, gasing tersebut akan dipangkah oleh gasing lainnya.
Menurut Zen, gasing merupakan permainan tradisional orang Melayu sejak dahulu kala. Gasing terbuat dari kayu stigi yang tumbuh di batu. Kayu ini bertekstur keras dan cocok untuk dibuat gasing. Namun, kayu ini susah didapat. Kemudian, kayu asam juga biasa digunakan untuk membuat gasing karena mudah didapat.
“Kayu lebam juga bisa, biasanya digunakan untuk membuat gasing anak-anak, karena dahulu setiap mau main gasing, baru dibuat dulu gasingnya,” terangnya.
Cara membuatnya, kayu dikikis menjadi bentuk gasing. Untuk talinya, pada zaman dulu berasal dari kulit pohon bebaru yang tumbuh di pantai, namun sekarang tali gasing bisa digunakan dengan tali nilon. Panjang tali sekitar satu meter.
Permainanan gasing terus berkembang hingga sekarang. Gasing dibentuk bulat dan memiliki tiga bagian penting, yakni kepala, badan, kemudian ujung bawah gasing. Di bagian bawah, dibuat lekukan yang berfungsi untuk tali gasing.
“Gasing memiliki beberapa bentuk, ada gasing jantung bentuknya seperti jantung pisang, gasing piring seperti bentuk piring, dan gasing berembang, gasing berukuran kecil,” jelasnya.
Untuk keseimbangannya, gasing diberikan paksi atau besi yang diletakkan di bagian bawah gasing untuk keseimbangan. Sehingga, ketika diputar di atas lantai atau tanah, gasing akan seimbang. Seiring dengan perkembangan zaman, selain terbuat dari kayu, kini gasing juga dibuat dengan plastik dan bahan lainnya.
Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan, Kota Batam mempunyai Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Di dalamnya ada 10 unsur yang tercantum, di antaranya olahraga tradisional, sastra lisan, ritus, dan sebagainya.
Ardi, panggilan akrabnya, menyebut gasing sangat populer di Kota Batam. Gasing dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa. di Kecamatan Belakangpadang, bahkan terdapat lapangan gasing sebagai tempat permainan gasing. “Kalau wisatawan mancanegara berkunjung, biasanya diajak bermain gasing di sana,” ungkapnya.
Sebagai warisan budaya tak benda di bumi Melayu, Ardi berharap permainan gasing tetap ada dan dapat memperkuat kebudayaan Melayu agar dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kita upayakan untuk selalu menghadirkan atraksi gasing. Kota Batam juga sudah memiliki tugu gasing yang berada di Batam Centre,” pungkasnya. (*)
"Tulisan ini dibuat oleh Reni Hikmalia dan telah terbit di Halaman Budaya Harian Batam Pos edisi Jumat, 19 November 2021"
"Tulisan ini dibuat oleh Reni Hikmalia dan telah terbit di Halaman Budaya Harian Batam Pos edisi Jumat, 19 November 2021"